Ngelem, Sudah Jadi Tradisi?


Kunjungan Asyik ke Ciroyom pada hari Minggu, tanggal 18 November 2009, mengenalkan saya pada anak-anak jalanan Ciroyom binaan Rubel Sahaja.  Anak-anak jalanan ini berasal dari berbagai wilayah, seperti Cimahi, Tasikmalaya, bahkan ada yang berasal dari Karawang.  Anak-anak tersebut kebanyakan menjadi anak jalanan akibat faktor ekonomi dan keluarga.  Salah satu hal menarik sekaligus memprihatinkan yang saya saksikan adalah hampir semua anak-anak jalanan ini ‘ngelem’.  Ya, kebudayaan ngelem sepertinya sudah menjadi tradisi dalam kehidupan mereka.  Selama ini saya pribadi memang sudah sering mendengar mengenai istilah ‘ngelem’, yaitu kecanduan lem Aibon.  Tapi, baru kali ini saya secara langsung melihat peristiwa itu dan tragisnya saya dan teman-teman lainnya tidak dapat berbuat apa-apa.  Kami hanya dapat mengalihkan perhatian anak-anak dari lem untuk beberapa saat saja, yaitu dengan kegiatan seperti main bola, memandikan anak-anak, menonton film-film pendek, menggambar, dan menyanyi bersama.

Salah seorang teman 2008 yang tidak mengikuti Kunjungan Asyik pernah bertanya kepada saya dengan penuh keheranan saat mendengar istilah ngelem,”Kok bisa sih, gimana caranya ngelem?” Jawabannya cara ngelem sangat gampang, anak-anak itu hanya perlu menghirup lem tersebut.  Ya, seperti kita ketahui bau yang berasal dari lem Aibon cukup unik, menyengat, dan membuat kita ingin kembali menghirupnya.  Ternyata menghirup lem Aibon dapat menimbulkan kecanduan, layaknya kecanduan narkoba.  Ngelem membuat anak-anak menjadi teler dan fly, sensasi fly ini membuat mereka merasa bahagia karena dalam kondisi ini mereka bisa berkhayal mengenai apa pun dan sejenak mengalihkan perhatian mereka dari kerasnya hidup yang harus dijalani. Namun, efek yang ditimbulkan  pun cukup berbahaya, yaitu kerusakan organ tubuh seperti paru-paru yang dapat berujung kepada kematian.  Bahkan, di Ciroyom sendiri sudah ada anak jalanan  yang tewas akibat ngelem.  Tapi, itu sama sekali tidak menyurutkan nyali anak-anak lain untuk berhenti ngelem.

Pak Games (pendiri sekaligus pengelola Rubel Sahaja) mengungkapkan bahwa anak-anak jalanan yang masih dalam tahapan beginner, bisa menghabiskan 5-9 kaleng kecil lem Aibon, sementara yang advance, dapat menghabiskan hingga 30 kaleng kecil per harinya.  Padahal harga lem Aibon per kaleng kecilnya sekitar Rp 1.500,- sampai Rp 2.000,-.  Fantastis, tapi sungguh miris.  Tidak hanya ngelem, beberapa anak juga kecanduan obat-obatan, mulai dari obat batuk murahan hingga pil koplo.  Mereka juga acapkali meminum minuman keras yang dioplos dengan minuman bersoda, seperti Coca-cola.  Hal ini jugalah yang menjadi salah satu alasan mengapa anak-anak jalanan di Ciroyom malas mandi.  Ya, karena daripada harus membayar Rp 1000,- untuk mandi, mereka lebih memilih menggunakan uang tersebut untuk membeli lem.  Mereka baru akan mandi ketika mereka mendapat kunjungan dari para relawan dan Pak Games mewajibkan mereka untuk mandi jika ingin mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh relawan.

Teman-teman, sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, inilah saatnya kita memberi dan berbagi.  Dengan memberi kita tidak kehilangan, justru kita mendapat pelajaran berharga, membuat kita sadar, dan bersyukur betapa beruntungnya kita terlahir ke dunia ini sebagai diri kita saat ini. Teman-teman, mereka tidak membutuhkan materi dari kita.  Yang mereka nantikan adalah sedikit perhatian dan uluran kasih sayang kita. (mira_13408083).

NB: Rencananya bakalan ada follow up dari kunjungan asyik ini, untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi Kak Fajar TI’07.

About these ads

8 Responses so far »

  1. 1

    albed said,

    Emang kalo ngelem (diisep baunya) lemnya bisa habisnya. Mengerikan banget ya..
    Kirain cuma dikit2 doanx, sampe 30 botol gitu.

    Wah, harus pada di rehab itu keknya.
    Kalo gak salah pernah liat juga di nyawang malem2. Tapi gak jelas juga itu lagi ‘ngelem’ apa ngelem yang lain.

  2. 2

    miraayuningtyas said,

    iya bed,,lem nya diisep sampe kering gitu,,sisa ampasnya

    kapan2 temen2 ubala maunya diajak main ke sana juga

    dengan kita dateng n ngajak mereka main,,paling nggak sedikit2 kita bs ngalihin perhatian mereka dari lem

  3. 4

    Mira said,

    iya 30 kaleng, tp bukan kaleng yg ukuran besar
    kaleng yg ukuran kecil, tp tetep aja, itu udah termasuk banyak bgt

    ini abrari, salah satu dari 4 legenda anak metro ya?

  4. 5

    Ohh, yang bilang “botol” tuh saya duluan mir..

  5. 6

    miraayuningtyas said,

    heu2,,,iya,,,nanti kt bikin yg kemasan botolan bed,,loh ko?
    ngedanus cara sesat***hehehe

  6. 7

    Hamim (papanya Esti) said,

    Tulisan yang bagus dan menyentuh Mira! Selamat berkarya!

  7. 8

    miraayuningtyas said,

    makasih, Om buat apresiasinya
    ^^

    salam bwt tante titik, esti, danar, dan sena, Om…


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: