Archive for KAMPUS-ku

h-19



h-19, originally uploaded by mira_ayuningtyas.

Comments (2) »

Innalillahi…Selamat Jalan Prof. Dr. Ir. Alibasyah Siregar

Pagi ini, ibu kos ngetuk kamar.  Aneh, jarang-jarang ibu naik ke atas, terlebih ngetok pintu kamar.  Begitu aku buka, ibu langsung mengatakan bahwa tetangga belakang rumah, dosen ITB yang juga wakil rektor meninggal.  Ibu bilang namanya Pak Ali Siregar.  Ali Siregar? Ingatanku seketika melayang ke milis yang baru kuterima semalam dari group MTI.  Aku spontan merespon ucapan Bu Lilis, “Maksud Ibu, Alibasyah Siregar, Bu?”  Ibu pun mengiyakan.

“Innalillahi wa’ inna ilaihi raaji’uun…”

Lalu kukatakan kepada Bu Lilis bahwa sebenarnya aku telah mengetahui perihal telah berpulangnya Bapak Alibasyah  sejak semalam.  Dan aku pun mengetahui bahwa jenazah akan dibawa ke rumah duka di Jln. Cihaur No. 20.  Namun, yang sama sekali tidak kuketahui adalah bahwa ternyata Jln. Cihaur itu terletak persis di belakang kosanku.  Dan rumah putih yang berada persis di belakang kosan adalah Bapak Alibasyah.

Teteh-teteh kosan mengatakan semalam memang sempat terdengar suara riuh sirine di belakang kosan.  Bahkan Teh Riri sempat melihat jenazah almarhum dimandikan dari balkon kosan.  Semalem aku memang tidur cepet, berusaha menepati janji kepada diri sendiri.

Jadi selama ini Bapak-bapak yang setiap pagi membaca koran di balkon lantai 2 rumah putih belakang kosan adalah Bapak Alibasyah.  Bapak yang sering bermain dengan cucunya yang gemuk dan menggemaskan adalah Pak Alibasyah.  Kenapa aku baru sadar sekarang?  Astaghfirullah, sebegitu nggak aware-nya kah saya?  Bahkan Sabtu kemarin pagi saya masih melihat Pak Alibasyah membaca koran di balkon seperti biasa.  Memang tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput, hanya Dia-lah Yang Maha Mengetahui.  Bu Lilis mengatakan bahwa Pak Alibasyah selama ini dikenal sebagai pribadi yang tidak terlalu banyak bicara.  Berdasarkan informasi yang saya dengar dari Ibu Lilis, Sabtu kemarin Pak Alibasyah mendadak sakit perut.  Kemudian istrinya memberikan obat warung untuk mengatasi rasa sakit perut yang dialami almarhum.  Namun, ternyata kondisi Pak Alibasyah tak kunjung membaik.  Akhirnya, almarhum dilarikan ke Rumah Sakit.  Namun, almarhum menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Saya sendiri sejujurnya belom pernah diajar Pak Alibasyah (Pak Alibasyah merupakan Dosen Teknik Industri dan belum lama baru dilantik menjadi wakil rektor ITB).  Saya sendiri baru mengenal Pak Alibasyah ketika saya menjadi panitia teknis Campus Meeting (rangkaian acara pemilihan Rektor ITB yang lalu).  Seandainya almarhum masih mengingat saya, mungkin yang beliau ingat hanyalah secuil memori yang memalukan, tapi menggelikan.  Ya, saat itu saya didaulat untuk menjadi MC acara Campus Meeting. Di acara yang formal dan dihadiri oleh beberapa Professor dan kahim-kahim beserta stafnya, bisa-bisanya saya melakukan hal bodoh yang sangat memalukan.  Ketika menyebutkan kepanjangan ITB, bisa-bisanya saya mengatakan kepanjangan dari ITB adalah Institut Teknologi Bandarlampung.  Seketika terdengar gelak tawa dari para kahim-kahim dan beberapa panitia.  Meskipun saya sempat melihat wajah-wajah para professor tidak mengindikasikan bahwa kejadian itu adalah kejadian yang lucu, tapi sangat memalukan (hmm…ini sih feeling saya-nya aja).

Mungkin hanya secuil kisah itu yang telah membuat saya mengetahui siapa Bapak Alibasyah Siregar… Selamat jalan Prof. Dr. Ir. Alibasyah Siregar…  Semoga amalan ibadah bapak diterima oleh Allah SWT.  Amiin…

Comments (4) »

ber-TAKAKURA bareng AIPL (Asosiasi Ibu Peduli Lingkungan Kota Bandung)

Nggak ada kuliah pagi, tapi jam 8 udah harus dateng ke kampus, sebenernya agak males. Hehehe… Tapi, berhubung demi pelatihan pembuatan kompos-Takakura, saya meluncur juga ke Gerbang Belakang Kampus Ganesha.  Sampe di TKP baru ada Bambang dan Detta.  Hmmm… ada feeling nggak enak nih.  Dan yap, ternyata jam 10 kita baru bisa ke tempat pembuatan komposnya.  Ya, saya sih gapapa.  Kebetulan, saya juga belom sarapan, jadi ada waktu buat sarapan dulu.

Setelah mengisi amunisi di KBL sambil ngobrol lalala…. demi membunuh waktu, akhirnya jam setengah 10 teng baru meluncur ke PAU, mau motokopi dulu.  Sekitar jam 10 baru akhirnya kita meluncur ke tempat pembuatan kompos-Takakura.  Ternyata tempatnya di Kebon Kembang.  Tempat pembuatan kompos-Takakura ini digalakkan oleh AIPL (Asosiasi Ibu Peduli Lingkungan Kota Bandung), dengan lokasi persisnya di Jalan Kebon Kembang Gg. Pancasila 12.

Slogan yang diusung pun cukup yahud dan menarik, ‘Mengkompos tidak pernah semudah dengan Keranjang Takakura’–’Solusi untuk Pengolahan Sampah Organik di Rumah Anda’.  Two Thumbs up, deh!

Kita bertujuh (saya, Bambang, Aldi, Azis, Lau, Nessy, dan Sapi) disambut hangat oleh ibu-ibu AIPL.  Kebetulan salah satu ibu AIPL juga memang Uwa’nya si Aldi.  Kita diajarin cara pembuatan kompos Takakura secara detail.  Wah, seru banget! Apalagi setelah ngeliyat hasil kerajinan tangan olahan dari sampah bungkus kopi, mi instan, dll yang disulap menjadi berbagai produk cantik, mulai dari mouse pad, kantong HP, tas, dll.  Asliiii….canggih abis!  Si Bambang aja sampe kepengen belajar gitu. Hehehe…

Next time kalo ada waktu dan kesempatan pengen balik ke sana lagi deh.  Kalo si Musa si enak banget, tinggal ngesot aja, soalnya di seberang serong kosan dia.

Comments (6) »

Selangkah Mengenal Teknik Industri Lebih Dekat

Kebanyakan orang mengatakan bahwa Teknik Industri adalah jurusan gado-gado. Di ITB sendiri, Teknik Industri dianggap sebagai program studi yang tidak jelas.  Hal tersebut diakibatkan produk yang dihasilkan tidak dengan mudah untuk dibayangkan.  Selain itu, karena Teknik Industri mempelajari berbagai aspek ilmu, maka tidak heran bila disebut gado-gado.  Akan tetapi, bukan berarti keilmuan Teknik Industri tidak jelas, karena ilmu yang dipelajari di TI tetap berakar pada keilmuan teknik, yaitu desain.  Namun, benda yang dirancang bukanlah benda nyata seperti mobil, gedung, dan sebagainya, melainkan suatu sistem terintegrasi yang terdiri dari mesin, material, energi, informasi, dan manusia.

Seorang sarjana Teknik Industri mempunyai prospek kerja yang cukup luas.  Namun, seorang sarjana Teknik Industri yang lulus dengan predikat cum laude tentunya akan  lebih berpeluang untuk mendapatkan pekerjaan yang bonafit. Beberapa prospek kerja sarjana TI di antaranya :

  1. Bidang Produksi/ operasi dan penjaminan mutu

Lulusan TI dibutuhkan untuk menangani perencanaan dan pengendalian produksi, kualitas, pengembangan sistem manajemen kualitas.  Hal ini dibutuhkan oleh hampir semua perusahaan, khususnya perusahaan manufaktur, seperti PT Rekayasa Indonesia, Toyota Astra Motor, PT Krakatau Steel, dan lain-lain.

Kolaborasi : Di bidang ini sarjana TI akan berkolaborasi dengan berbagai sarjana dari keilmuan lainnya, di antaranya Elektro, Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Material, Teknik Metalurgi, Teknik Fisika, Desain Produk, dan sebagainya.

  1. Bidang pemasaran

Dalam bidang ini, lulusan TI berperan sebagai market research, technical sales, dan lain-lain. Contohnya di perusahaan P&G, Unilever, Nestle, Astra, dan lain-lain.

Kolaborasi : Teknik Kimia, Farmasi, Akuntansi, dan lain-lain.

  1. Bidang konsultasi manajemen

Untuk menjadi konsultan di perusahaan asing semacam Boston Consulting Group, IPK cum laude memang menjadi salah satu syarat penting.  Di samping itu, terdapat beberapa perusahaan lainnya, seperti Accenture dan Nielsen Company.

Kolaborasi : Manajemen, Komunikasi, Hukum, dan lain-lain.

  1. Bidang Keuangan (bank dan asuransi)

Misalnya BNI, Bank Mandiri, Bank Niaga, dan sebagainya.

Kolaborasi : Akuntansi, Ekonomi Manajemen, dan lain-lain.

  1. Bidang Sistem Informasi

Banyak alumni TI yang membuka usaha di bidang software house.  Selain itu, lulusan TI juga menduduki posisi staf IT, staf dalam pemasangan sistem informasi.  Perusahaan yang membutuhkan lulusan TI misalnya : SAP Indonesia, Oracle Telkomsel, Pertamina, P&G, dan lain-lain.

Kolaborasi : Teknik Informatika, Sistem Teknologi Informasi, Teknik Kimia, Teknik Elektro, Teknik Perminyakan, Matematika, Teknik Telekomunikasi, Komunikasi, Teknik Mesin, Teknik Fisika, dan lain-lain.

  1. Bidang Logistik

Contoh perusahaan yang menerima lulusan TI adalah P&G, PT Semen Gresik, dan lain-lain.

Kolaborasi : Teknik Kimia, Teknik Elektro, Teknik Fisika, Teknik Mesin, Teknik Material, Kimia, Biologi, Fisika, dan lain-lain.

  1. Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia

Lulusan TI yang bekerja di bidang ini misalnya di PT Semen Padang, P&G, dan lain-lain.

Kolaborasi : Teknik Kimia, Teknik Elektro, Teknik Fisika, Teknik Mesin, Teknik Material, Kimia, Biologi, Fisika, dan lain-lain.

Sumber :  Mengenal Strategi Masuk dan Program Studi ITB

Dalam rangka ngerjain tugas PKN Kelas Pak Humaryono

Comments (11) »

B B U 2010

Alhamdulillah BBU (Bulan Bakti Ubala) 2010 dapat berlangsung dengan lancar.  Rangkaian Roadshow ke SMA-SMA di Provinsi Lampung ini ditutup dengan sebuah Try Out Akbar yang dihelat di GSG UNILA.  Meskipun pada Try Out kali ini pesertanya tidak sebanyak tahun lalu, tapi insya allah maksud acara yang disuguhkan mengena di hati para peserta. Amiin…^^

BBU 2010 kali ini diketuai oleh boss Bambang Tressando (TI ’08) yang dengan luar biasa berhasil memimpin pasukannya.  Bahkan, dia rela menempuh 18 jam (lebih malah) bolak-balik Lampung-Bandung karena ada sedikit hambatan terkait urusan akademik dan rasa tanggung jawabnya kepada BBU.  Selain Bambang, ada juga Wakilnya, yaitu Danlap Rizky yang selalu siap menghibur temen2 panitia.  Rizky selalu bisa mencairkan suasana, sehingga seletih apa pun panitia, pasti akan tersenyum kalo Rizky sudah mulai beraksi (baca: berulah),hhe… Juga ada temen2 2008 lainnya, seperti Fira, Yulia, Dwiki, Albed, Pedca, Yasir, Luki, Ralang, Fikri, dan Andri yang bersedia membagi liburannya untuk BBU, nuhun yaak temen2! ^^

Terima kasih juga buat kakak2 2007 yang masih nyempetin untuk ber-Roadshow ria, ada mbak Riris, Kak Azhari, Mbak Yuyut, Kak Depe, Kak Jimmy, Kak David, dan juga Kiyay Prabu yang bahkan rela turun langsung di bagian Ticketing saat TO. Juga untuk Kak Budi (IF’06) yang juga masih bersedia berpartisipasi di BBU 2010, yang mana BBU keempat bagi Kak Budi.

Dan pastinya terima kasih dan kekaguman luar biasa saya kepada temen2 2009 yang bener2 luar biasa bekerja keras banting tulang (lebay,hhe…) untuk menyukseskan BBU kali ini.  Ada Noura, Debby,Kevin, Ridho, Radit, Piska, Fakih, Ghazali, Alan, Husen, Agnes, Eko, Benta, Meta, Wahyu, Bagus, Timmy, Santo, dan Edi.  I’m so proud of you, guys!  Kalo ada yang namanya belum kesebut maaf ya…

Terima kasih juga untuk para sponsor (NF, GMP, GGP) dan pihak-pihak yang juga telah berpartisipasi untuk menyukseskan acara ini.  Kak Rio is the best, mantaplah Training nya, sayangnya saya nggak bisa ngikutin full.

Terima kasih… saya cuma bisa ngucapin terima kasih…

BBU 2010 kali ini bener-bener terasa manis…

Leave a comment »

[TI 2008] Api Kita Sudah Menyala

Awalnya sempet kepikiran untuk nggak ikut kumpul angkatan, soalnya beberapa kali kumpul angkatan terakhir sepi terus.  Jadinya mengecewakan, dan sayanya malah jadi ikut-ikutan males.  Apalagi abis ujian Mavek, terus ada jeda 2 jam yang nanggung, mau pulang nggak keburu, kalo nggak pulang nge-GEJE di kampus. Hehe, tapi untungnya bisa ke sekre Ubala si.  Dan di sekre terhibur dengan kekocakkan cowok2 Ubala yang heboh gara-gara nonton Go Kong alias Kera Sakti. Dan akhirnya kita malah ngalor-ngidul ngomongin permainan tradisional anak-anak, mulai dari Gobak Sodor, Dempo, Angkaliung, dll.

Back to topic, hehe, awalnya sempet nggak ngeh dengan jarkom angkatan tentang “Api Kita Sudah Menyala”.  Sekarang baru sadar, ternyata keren banget maknanya. Dan akhirnya karena bujukan Atya dan Hanna, saya mutusin buat dateng.  Alhamdulillah banget saya ikut, kalo nggak ikut pasti nyesel berat. Hehehe…

Acara kumpul angkatan edisi special ini sendiri merupakan idenya Nicko.  Tujuannya untuk menstabilkan angkatan.  Dan, waw, kalo boleh jujur sebenernya angkatan kita udah cukup stabil, walaupun nggak bisa dipungkiri kalo yang namanya GAP atau semcam cluster2 di angkatan tetep ada.  Tapi, dengan diadakannya kumpul-kumpul gini menurut saya lumayan efektif buat mengikis batas-batas dari tiap cluster itu sendiri.

“Api kita sudah menyala” diselenggarain di rumahnya Diandra di Setia Budi deretannya Suis Butcher.  Acara diawali dengan sholat Maghrib berjama’ah yang diimami oleh Bambang, kemudian dilanjutkan makan nasi tumpeng bareng secara barbar.  Acara bakar-bakarannya sendiri diadain di halaman belakang rumah Diandra.  Dan yang mengharukan ternyata selain bendera-bendera MTI dibawa, pohon komitmen angkatan 2008 juga dibawa.  Ditemani hangatnya api unggun, kami duduk bersama di atas rerumputan.  Pembicaraan mengenai berbagai masalah di angkatan pun diangkat secara terbuka. Secara spontanitas, Reza, Ketua Angkatan, pun didaulat menjadi moderator.

Berbagai pembicaraan mengenai GAP, cluster, dan stabilitas pun terus mengalir.  Walaupun ending-endingnya jadi agak OOT ketika masalah asmara di angkatan antara “A” dan “G” mulai disinggung-singgung. Hmm… kalo bapak-ibu saya pernah bilang istilah cinlok sejurusan gini namanya “In breeding”.

Sekitar jam 8an Bambang pamitan.  Pas pamitan Bambang sempet nyampein beberapa patah kata yang mengena banget.  Intinya, kita jangan Cuma bisa hura-hura, satu hal penting yang harus kita inget adalah kematian.  Buat saya itu mengena banget.  Di tengah hingar-bingar celoteh anak-anak tentang masalah angkatan dll yang berbau duniawi, omongan Bambang seolah-olah menjadi oase. ^^

Nggak lama dari itu, acara ditutup dengan menyanyikan lagu angkatan dan avanti MTI bersama dengan posisi mengelilingi api unggun.  Meskipun capek, tapi bukan berarti mengurangi semangat untuk ber-avanti.

Avanti MTI

Alaris corscha

Pre siempre viva

Pre siempre viva

Avanti MTI

Alaris corscha

Pre siempre viva

Thriumph vera hu ha ha…

Always unity forever we are

Always unity whenever we are

Always unity wherever we are

Viva la MTI et la libertat, hey!

Leave a comment »

Surat untuk Presiden( Forward-an dari Kak “Radix Hidayat” di milis MTI)

www.radioppidunia. com
“suara anak bangsa, satu cinta, satu Indonesia…”

PAK Presiden:

Ini adalah surat pertama saya kepada Anda dan sesungguhnya saya ingin menulis surat kepada Anda setiap hari. Saya pernah membaca surat terbuka macam ini yang ditulis oleh kolumnis Art Buchwald yang jenaka ketika Richard Nixon menjadi Presiden Amerika Serikat. Waktu itu Buchwald mengatakan, ”Pak Presiden, dengan surat ini saya ingin menyampaikan kepada Anda bagaimana cara memimpin negara. Berbahagialah Anda karena saya tidak memungut biaya sama sekali untuk nasihat yang saya berikan, sebab saya merasa bahwa sudah menjadi tugas saya sebagai warga negara untuk membantu Presiden mengatasi pelbagai masalah yang muncul hari ini.”

Itu sikap yang baik dan, terus-terang, saya ingin menirunya. Karena itu, saya juga tidak akan memungut biaya atas apa yang saya sampaikan kepada Anda melalui surat ini.

Yang pertama, Pak Presiden, saya pikir sudah saatnya bagi Anda untuk berhenti memikirkan pencitraan diri. Sulitnya menjadi presiden yang terlalu menjaga citra adalah Anda bisa menjadi tampak lamban karenanya. Hal yang sama dialami oleh seorang perempuan yang terlalu menjaga penampilan. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di salon untuk menyasak rambut atau memotong kuku atau melentikkan bulu mata, hanya demi sebuah keputusan sepele: menghadiri kondangan.

Saya kira Anda perlu sedikit rileks, tetapi jangan pula terlalu guyon. Seorang presiden yang senang guyon akan menimbulkan masalah tersendiri, bagi dirinya dan bagi negeri yang dipimpinnya. Gus Dur pernah membuktikan itu. Saya kadang senang dengan guyonannya, tetapi para politisi di gedung DPR pada masa itu pastilah tidak suka dibilang sebagai sekumpulan anak TK (Sekarang banyak orang yang membenarkan pernyataan Gus Dur itu, terutama karena sampai hari ini perilaku anggota DPR masih membuat orang tidak bahagia.).

Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Tahun 2010 Amerika Serikat Diprediksi akan Kekurangan 70.000 Engineer

Mungkin ini bisa jadi kabar baik bagi para engineer yang berniat untuk merantau di negeri Paman Sam.  Kok bisa?  Soalnya berdasarkan survey yang dilakukan oleh Departemen National Sciences-nya Amerika Serikat (AS) kepada anak-anak yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan orang tua dari anak-anak tersebut, diperoleh fakta yang mengejutkan.  Hanya 30% korespondensi pria dan 10% korespondensi wanita yang menyatakan ingin melanjutkan studinya pada bidang engineer.  Waw, padahal di dunia yang semakin hi-tech ini, engineer memegang peranan yang cukup vital dalam berbagai lini kehidupan.  Iya kan? Hehe, ini sih mungkin dari kacamata mahasiswa dari jurusan teknik seperti saya.

Mungkin hasil survey ini menjadi semacam gambaran yang mengkhawatirkan bagi pemerintah AS. Namun, sebaliknya prediksi ini bisa jadi merupakan berita baik bagi para engineer dari negara-negara lain, terutama dari Asia untuk mencoba peruntungannya di negeri Paman Sam tersebut. Menjadi seorang engineer tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.  Nggak Cuma engineer sih,  bidang-bidang lain juga sama. Hehe, tapi harus diakui, ilmu yang dipelajari untuk menjadi seorang engineer bidang apa pun itu berat.  Belum lagi, pada kenyataannya seorang engineer dituntut menjadi seseorang yang ahli, tidak hanya secara teori, tetapi juga pada praktiknya.  Dan beberapa bidang tertentu berkaitan langsung dengan hajat hidup orang banyak.  Contohnya Civil engineer yang ngurusin pembuatan jembatan, gedung-gedung, dan bangunan-bangunan lainnya.  Wah, kebayang kan, kalau jembatannya nggak bener, terus roboh, bahaya banget kan. Nah, mungkin di mata anak-anak di AS sana, engineering dianggap sebagai ilmu yang berat dan kurang menyenangkan untuk ditekuni.  Akibatnya, muncullah isu AS akan kekurangan engineer pada tahun 2010.  Lha, 2010 kan bentar lagi ya?

 

Sumber: Bapak Dradjat Irianto, Dosen Teknik Industri ITB (cerita dari Pak Dradjat pas kuliah Probstat Kamis, 12 November 2009).

Comments (2) »

Sepenggal cerita mengenai Wisudaan ITB

Ini keempat kalinya aku menyaksikan salah satu momen spesial di ITB, yaitu wisudaan.  Kali ini dengan posisi yang berbeda, tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pelaku karena kali ini aku telah menjadi bagian dari salah satu himpunan di ITB, MTI.  Ternyata menyiapkan acara wisudaan tidak sesederhana yang kupikir.  Cukup menguras waktu, energi, dan biaya.

Setahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku menyaksikan wisudaan di ITB, sangat meriah.  Terlebih anak-anak FSRD yang tampak sangat niat, all out banget.  Wisudaan semakin ricuh ketika perkelahian mulai terjadi.  Ternyata hal seperti ini memang sudah menjadi semacam tradisi.  Ibaratnya sayur yang akan terasa hambar bila tanpa garam, begitu pula halnya dengan wisudaan, akan terasa hambar tanpa diwarnai keributan semacam perkelahian.  Wisudaan di ITB memang terlihat sangat seru, diwarnai dengan aksi arak-arakan himpunan-himpunan mahasiswa.  Hmmm… mungkin karena sejak dulu masuk ITB terbilang  ‘susah’, apalagi untuk lulus, makanya wisudaan menjadi suatu euforia kemenangan yang sangat sayang untuk dilewatkan tanpa kesan berarti.  Jadilah muncul aksi-aksi semacam arak-arakan.  Yah, ini buah pemikiran kesotoyan mahasiswa tingkat II seperti saya,hehe…

Awalnya saya pikir suasana wisudaan di kampus lain pun sama, tapi ternyata nggak  juga.  Waktu lagi liburan kemarin, aku sempet nggak sengaja ngeliat wisudaan di UNILA (Universitas Negeri Lampung).  Ternyata nggak seheboh yang terjadi di ITB, di luar GSG UNILA tidak terlihat lautan mahasiswa dari jurusan masing-masing menanti keluarnya senior-seniornya yang telah lulus. Tak ada semacam arak-arakan.  Hmmm…untuk pertama kalinya saya jadi merasa kangen kampus ITB di saat-saat liburan. Hehe…saya kangen liat wisudaan ITB yang seru. Lucunya, salah seoran temen panitia lapangan PROKM pernah cerita kalo waktu wisudaan, ada temennya dari UI yang kebetulan lagi maen ke ITB.  Terus temennya terkagum-kagum gitu, seru ya wisudaan di ITB, sampe ada adegan berantem-beranteman segala.  Hehehe….ternyata si anak nyangka itu skenario, padahal itu asli berantem,lho. Hehe…

Tapi, kehebohan wisuda perlahan sudah mulai pudar, seiring dengan keluarnya larangan arak-arakan dari pihak rektorat dengan berbagai alasan.   Hanya beberapa himpunan-himpunan tertentu yang tetap ‘berani’ melakukan arak-arakan, biasanya sih himpunan-himpunan timur jauh,hehe…peace…

Pihak rektorat juga mungkin bosan dengan arak-arakan yang selalu diakhiri dengan perkelahian.  Hmmm…yah, terkadang timbulnya perkelahian seperti ini memang bisa jadi disengaja, buat rame-ramean aja.  Tapi, kalo dipikir-pikir kurang kerjaan juga ya, nggak sesuai dengan kecerdasan intelektual mahasiswa ITB yang dibilang berotak encer.  Hehehe…

Wisuda kali ini, untuk pertama kalinya saya dan rekan-rekan TI 2008 menunjukkan salam tertinggi MTI kepada massa kampus di Sabuga.  Dan rasanya luar biasa.  Always unity forever we are….viva la MTI et la libertat! Hey!  Semoga saya dan rekan-rekan 2008 dapat lulus tepat waktu! Amiin…^^

Leave a comment »

Ditraktir Pak Aso di D’cost

Nama Pak Aso pasti udah nggak asing lagi di telinga mahasiswa TI ITB.  Yup, siapa yang nggak kenal sama pak dosen yang luar biasa ramah dan dermawan ini.  Pak Aso punya hobi nraktir para mahasiswa,hehehe…  Biasanya kita ditraktir gorengan danus wisuda di kelas.  Tapi, kali ini Pak Aso nraktir kita “makan-makan beneran”.  Setelah nraktir anak-anak logprog kelas 1, kali ini Pak Aso nraktir anak-anak logprog kelas 2 di D’cost.  Waw, yang namanya ditraktir aja udah cukup menyenangkan, apalagi ditraktir makan-makan enak. Hehehe… Anak-anak pun makan dengan barbarnya.  Pak Aso memang pengertian banget, setelah selesai dengan sajian utama, anak-anak masih ditawarin buat mesen makanan lain kalo masih pengen.  Waw…  Yah,,, yang namanya mahasiswa kayaknya perutnya kayak karet, fleksibel banget buat nampung makanan banyak-banyak. Hehehe….

Makasih Pak Aso,,,we love you full, (^_^)V
Bukan cuma karena Pak Aso sering nraktir, tapi karena Pak Aso memang baiiiik banget, welcome sama mahasiswa!

Comments (2) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.