Indonesia Tak Hanya di Bibirku


Intro : iseng aja dipost, lagi buka-buka komputer rumah dan nemuin tulisan yang menggebu-gebu ini pas masih umur 17 tahun.  Yah, sekitar 2 tahunan yang lalu.

Waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa sudah 17 tahun aku menyandang status WNI atau Warga Negara Indonesia. Aku pun sangat gembira menyongsong ulang tahunku yang ke-17 ini karena tak lain tak bukan aku akan segera memiliki KTP. Ya, Kartu Tanda Penduduk. Aku iri sekali sewaktu salah seorang teman sekelasku memamerkan KTP-nya yang baru saja dibuat dua hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-17. Entah mengapa aku merasa ingin sekali memiliki sebuah KTP. Rasanya ada suatu kebanggaan tersendiri apabila di dompetku terpajang sebuah KTP. Suatu kebanggaan akan statusku sebagai warga Negara Indonesia.

Sejak kecil aku sangat menyukai hal-hal yang berbau sejarah, terutama hal-hal yang berhubungan dengan sejarah Indonesia. Aku masih ingat kala itu ketika aku masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, setiap tanggal 30 September selalu ditayangkan film “Ade Irma Suryani”  –sebutanku terhadap film yang mengisahkan peristiwa pemberontakkan G-30/S/PKI.  Aku sangat antusias menyaksikan film itu, meskipun sebenarnya aku belum mengerti jalan cerita film tersebut. Wajar saja karena saat itu usiaku masih 5 tahunan. Minatku terhadap Sejarah sedikit-banyak dipengaruhi oleh ayahku yang amat menggemari sejarah. Aku sangat gemar mendengarkan beliau bercerita mengenai berbagai kisah. Kisah sejarah tentunya.

Ketika di bangku SD, yaitu sejak lengsernya Pak Soeharto dari kursi kepresidenan, film favoritku itu sudah tidak ditayangkan lagi.  Saat itu banyak berhembus kabar tak sedap mengenai Pak Soeharto. Aku pun jadi bingung sendiri. Mengapa tokoh Pak Soeharto yang digambarkan sebagai pahlawan di film G-30S/PKI justru diberitakan sebagai orang jahat yang telah merugikan Indonesia?  Bukankah beliau adalah pahlawan Indonesia?  Pada saat itu sangat sulit bagiku yang masih duduk di bangku kelas 3 SD untuk menerima berita-berita miring mengenai Bapak Presiden yang kubanggakan.  Aku tetap saja tidak mengerti, mungkin karena pola pikir anak SD yang masih sangat sederhana.

Pemberitaan-pemberitaan tersebut bukannya menyurutkan minatku terhadap sejarah, tetapi justru membuatku semakin antusias untuk mempelajari sejarah Indonesia. Ketika kelas 4 SD, aku bersekolah di siang hari. Sebelum sekolah dimulai, aku selalu menyempatkan diri untuk bermanja-manjaan dengan buku-buku sejarah Indonesia di perpustakaan sekolah. Aku sangat gemar mengamati lembar demi lembar buku “Sejarah 50 Tahun Indonesia Merdeka”. Yah, walaupun buku itu sangat tebal. Di dalam buku itu kesimpulan yang kudapat tetap saja bahwa Bapak Presiden Soeharto adalah seorang tokoh pahlawan bangsa ini.

Baru ketika duduk di bangku SMP, semua keherananku terjawab sudah. Saat itu Sejarah menjadi pelajaran yang sangat kutunggu-tunggu karena selain materinya yang kusuka, Pak Untung (nama guru Sejarahku) sangat pintar mendongengkan mengenai kisah sejarah. Beliau membuatku semakin merasa bahwa Sejarah adalah suatu hal yang cukup menyenangkan untuk dipelajari.  Waktu itu aku baru mengerti bahwa sejarah hanya bergantung pada tokoh penguasa. Pak Untung mengatakan bahwa jangan pernah menyalahkan Guru Sejarah apabila sejarah yang dipelajari justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.

Meski kecewa dengan kebohongan publik semacam itu, bukan berarti mengurangi rasa cinta dan kebanggaanku terhadap Indonesia. Bukan Indonesia yang bersalah, tetapi sebagian kecil dari penduduk negara inilah yang justru tega mencoreng nama negaranya sendiri. Ironis sekali. Terus terang saja aku sangat sedih melihat lunturnya nasionalisme di sanubari para pelajar seusiaku. Tetapi, aku jauh lebih sedih lagi melihat pudarnya nasionalisme di dada para orang dewasa. Hatiku ngilu ketika media massa ramai memberitakan korupsi yang dilakukan oleh para pejabat. Hal ini menunjukkan bahwa nasionalisme sudah lenyap dari dada mereka.

Pada 17 Agustus 2005 lalu, aku sangat bangga sekali terpilih menjadi anggota “TONPARA” (Pleton Pengibar Bendera) di sekolahku. Meskipun hanya sebagai pasukan 45 (empat puluh lima) yang disebut-sebut sebagai pasukan background, hal itu sama sekali tidak menyurutkan kebanggaanku. Justru aku sangat antusias sekali mengikuti latihan rutin yang diadakan hampir setiap hari selama sebulan. Aku sangat prihatin sekali ketika beberapa di antara temanku mengundurkan diri dari TONPARA dengan alasan ‘TONPARA hanya buang-buang waktu, melelahkan, dan membuat kulit menjadi hitam’. Apa mereka lupa bahwa dahulu demi mengibarkan Sang Saka Merah Putih, para pahlawan kita bahkan rela mengorbankan jiwa dan raganya? Mungkin bila para pahlawan masih hidup sampai saat ini, mereka pasti akan sedih sekali ketika menyaksikan banyak siswa yang asyik berbicara satu sama lain tatkala Bendera Merah Putih dikibarkan dan Lagu Indonesia Raya dikumandangkan.

Hal yang lebih memilukan lagi ialah penurunan kadar nasionalisme terhadap tanah air tidak hanya terjadi pada remaja seusiaku, tetapi justru terjadi di kalangan orang tua yang seharusnya menanamkan rasa nasionalisme sejak dini di relung-relung sanubari buah hatinya. Mereka hanya bekerja demi dirinya sendiri dan keluarganya. Mereka hanya berusaha memperkaya dirinya sendiri, tidak peduli apakah tindakan yang dilakukan dapat merugikan negara. Apakah mereka lupa akan kewajibannya sebagai warga Negara Indonesia? Mereka hanya menuntut apa yang seharusnya mereka peroleh dari negara ini, tetapi mereka melupakan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk negara ini, negaraku, negara mereka, negara kita, negara rakyat Indonesia.  Bukankah ada pepatah bijak yang mengutarakan “jangan tanyakan apa yang telah negaramu berikan untukmu, tetapi tanyakanlah apa yang telah engkau berikan untuk negaramu”.

Dahulu seluruh rakyat Indonesia di berbagai penjuru merasa sangat bangga akan kekayaan tanah air Indonesia yang melimpah. Bahkan grup band legendaris seperti Koes Plus pun tidak kalah bangganya dengan bangsa ini hingga mereka menuangkan kebanggaan mereka dalam lirik-lirik lagu mereka.

Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kutemui

Ikan dan kumbang menghampirimu

Reff : Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Namun, kebanggaan itu kini kian memudar terenggut oleh predikat-predikat buruk yang disandang Indonesia. Mulai dari negara dengan tingkat korupsi tinggi hingga negara dengan hutang menumpuk yang mungkin hingga tujuh turunan belum tentu dapat dilunasi. Bayi-bayi merah yang baru saja lahir ke dunia ini, sudah harus memikul tanggung jawab untuk melunasi hutang-hutang generasi sebelumnya. Mungkin jika bayi-bayi itu mengerti mereka akan berkata, “ Bapak-bapak dan ibu-ibu yang duduk di kursi pemerintahan kasihanilah kami. Apa bapak-bapak dan ibu-ibu tega melihat bayi-bayi suci yang belum berdosa seperti kami harus menanggung hutang-hutang kalian?”

Haruskah kebanggaan kami sebagai anak bangsa terenggut begitu saja?

Tanamkanlah kebanggaan terhadap bangsa Indonesia sejak dini! Cintailah bangsa ini seperti kita mencintai diri kita sendiri. Kalau bukan kita rakyat Indonesia yang mencintai bangsa ini, siapa yang akan mencintai bangsa ini?

Indonesia tak hanya di bibirku, bibirmu, dan bibir kita semua, tetapi juga terpahat di relung-relung sanubari kita. Selamanya. Selama jiwa masih melekat dalam raga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: