Taubatan Naya di Balik Jeruji


Ya Tuhanku,

ampunilah dosa-dosaku

semua salahku

semua khilafku

Ya Allah,

Terimalah taubatku ini

Bersihkanlah hati hamba-Mu ini

Kuatkanlah kalbuku ini

Entah untuk yang keberapa kalinya kulafalkan doa permohonan ampunan itu kepada Tuhanku.  Aku menguntai doaku tersebut di kala sepertiga malam, di tengah-tengah tahajudku.  Setiap harinya di waktu yang sama, aku selalu mengulangi doaku diiringi dengan lelehan air mata yang mengalir membasahi pipiku. Namun, aku tiada bosan dan lelah untuk terus melantunkan bait puitis yang kupersembahkan hanya untuk rabb-ku.  Tahajud merupakan hal yang sangat baru bagiku.  Sebelumnya, jangankan menunaikan sholat sunnah, sholat wajib pun tak pernah kukerjakan.  Anehnya, kini aku selalu merindukan untuk melakukan ibadah-ibadah itu.  Suatu hal yang tidak pernah dan tidak akan mungkin kulakukan sebelumnya di kala aku masih tersesat jauh dan hina.

****

Namaku Arnaya Maharani. Orang-orang di sekitarku memanggilku dengan sebutan Naya. Namun, bundaku memanggilku dengan sebutan ‘Nay’.  Aku sangat rindu dengan panggilan itu.  Kini entah di mana sosok wanita yang telah melahirkanku itu, wanita yang dengan teganya menelantarkan putri cilik semata wayangnya yang saat itu berusia 10 tahun.  Wanita yang paling kucintai sekaligus paling kubenci di dunia ini, meski aku sangat merindukannya.

Berawal dari 6 tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku SD.  Hari kelabu itu terjadi pada tanggal 12 Februari 2000 yang merupakan hari ulang tahunku.  Hari itu menjadi permulaan malapetaka yang mengubah kehidupanku secara drastis, dari gadis manis yang ceria menjadi gadis pendiam, pemurung, dan tidak memiliki seorang pun teman.  Hari itu sepulang dari sekolah, aku segera turun dari mobil jemputanku dan bergegas masuk ke dalam rumah dengan senyuman lebar untuk ayah dan bundaku yang telah berjanji untuk pulang cepat dan merayakan hari spesialku.  Namun, senyumanku itu berganti menjadi isak tangis, ketika kujumpai ayah-bundaku bertengkar di sudut ruang keluarga.  Plak!!! Masih terngiang jelas di telingaku bunyi tamparan itu.  Tiba-tiba saja ayah menampar pipi bunda.  Dada ini terasa begitu nyeri ketika menyaksikan adegan tersebut.   Kronologis petaka itu masih terbayang jelas di benakku.  Setelah tamparan itu bunda segera mengemasi pakaiannya sambil menangis.

”Bunda mau pergi ke mana? Bunda jangan pergi!”

Aku terus menanyai bunda.  Namun, bunda hanya menjawab dengan tatapan matanya yang sembab dan basah.  Setelah selesai mengemasi pakaiannya ke dalam koper, bunda segera memelukku dengan erat.

“Nay sayang, maafkan Bunda.  Bunda harus pergi.”

“Bunda mau pergi ke mana? Nay ikut Bunda! Nay mau ikut Bunda!”rengekku.

“Bunda harus pergi jauh sekali.  Bunda akan meninggalkan negeri ini.  Ada yang harus bunda kejar di luar negeri.”

“Apa yang Bunda kejar? Kasih tahu Nay, biar Nay bisa bantu Bunda.”

“Nggak bisa sayang. Nay di sini saja sama Ayah.  Temani ayah. Nay jangan bandel ya! Nay juga harus rajin belajar supaya pintar! Bunda sayang sekali sama Nay, tapi Bunda harus tetap pergi.  Sekali lagi maafin Bunda.”ujar Bunda seraya meraih kopernya dan meninggalkanku menangis sendiri di kamar.

Aku berlari mengejar Bunda.  Namun, terlambat.  Bunda telah pergi dengan mercedez hitam yang entah milik siapa.  Aku terus meraung, berharap dengan raunganku bunda akan kembali.  Tapi, aku salah karena Bunda tak pernah kembali hingga detik ini ketika usiaku telah genap 16 tahun.  Ulang tahunku kali ini sama suramnya dengan lima ulang tahunku sebelumnya, tanpa ayah dan bunda di sampingku, tanpa acara potong kue dan tiup lilin. Aku hanya menatap Honda Jazz biru yang notabene merupakan kado ulang tahun pemberian ayah tanpa minat.  Aku tahu apa alasan ayah memberiku mobil pribadi.  Semua itu dilakukannya semata-mata hanya agar ia bisa terlepas dari tanggung jawab untuk mengantar jemputku dari sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Ayah selalu membuatku merasa menjadi nomor dua.  Baginya hal yang terpenting di dunia ini adalah pekerjaannya.  Sejak kepergian bunda, yang ada di benak ayah hanyalah bekerja dan terus bekerja.  Bahkan pada hari libur pun ayah lebih suka menghabiskan waktunya untuk lembur di kantornya atau sekedar bertemu dengan para relasi bisnisnya daripada menghabiskan  waktu bersama putri semata wayangnya ini.  Bundalah yang menyebabkan ayah menjadi workaholic seperti ini.  Belakangan aku baru tahu apa alasan bunda meninggalkan aku dan ayah.  Bunda adalah seorang wanita cerdas, menarik, tekun, dan disiplin.  Sebagai seorang wanita karir, bunda nyaris sempuna dengan segala kelebihannya.  Oleh, karena itu ia pun mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan karirnya di luar negeri.  Bunda diangkat sebagai pemimpin di salah satu cabang perusahaan tekstil terkemuka di Belanda.  Namun, ayah tidak setuju bila bunda harus pindah ke Belanda.  Kemudian, bunda dengan sifat ambisiusnya lebih memilih karirnya daripada keluarganya.  Ayah pun kini tidak ada bedanya dengan bunda.

****

Selama ini aku selalu belajar dengan tekun karena itu pesan terakhir bunda.  Aku selalu berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh predikat juara umum.  Hal itu kulakukan semata-mata hanya untuk mencuri perhatian ayah.  Tapi, percuma saja karena hasilnya nihil.  Akhirnya, pada ujian semesteran ini aku memutuskan untuk mengosongkan kertas jawabanku.  Aku tidak peduli dengan apa pun yang akan terjadi nantinya.  Aku hanya ingin ayah memperhatikan aku.  Tidak lebih.

Akibatnya ternyata tidak seperti yang kuharapkan.  Ayah memang dipanggil oleh pihak sekolah.  Namun, ayah mengutus sekretarisnya untuk datang mewakili karena ayah harus menghadiri sebuah rapat penting di luar kota.  Dan aku dengan sangat terpaksa mau tidak mau harus mengikuti ujian ulang.

Predikat juara umum pun terlepas dari genggamanku, tapi hal itu tidak begitu membuatku kecewa.  Justru yang membuatku sangat kecewa adalah sikap ayah kepadaku.  Sepulangnya dari luar kota, ayah sama sekali tidak menyinggung tentang ulahku itu.

Di sekolah pun aku terus mendapat masalah akibat ulah nekatku itu.  Aku muak dengan para guru konseling yang terus memburuku.  Seperti pada hari ini, aku dipanggil ke ruang BK untuk menghadap guru konseling.  Berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh ketiga guru BK itu membuatku semakin merasa sesak dan terdesak.  Akhirnya, kesabaranku pun habis.  BRAKKK!!!! Aku menggebrak meja kayu yang menjadi pembatas antara mereka dan diriku.

“ARNAYA!!!!!!!!!!!!”

Aku tidak peduli meski mereka terus memanggil-manggil namaku.  Aku hanya berlari dan terus berlari menuju ke arah tempat parkir dan memacu Honda Jazz biruku meninggalkan area sekolah.  Rupanya pikiranku sangat kacau, sehingga aku hanya berputar-putar di tengah kota dan kembali lagi menuju ke sekolah.  Tiba-tiba saja aku melihat salah seorang guru BK yang bernama Ibu Fatimah berjalan keluar melewati gerbang.  Beliau tampak ingin menyeberangi jalan.  Bagai kerasukan setan aku menggerakkan tongkat persneling dan memacu Jazz-ku dengan kecepatan penuh.

BRUKKKKKKKKK!!!!!!

Dalam hitungan detik, Ibu Fatimah telah terpental beberapa meter setelah terhantam body Jazzku.  Aku terpaku melihat wanita yang baru saja mencecarku dengan berbagai pertanyaan kini bersimbah darah karena ulah gilaku.

Dalam hitungan detik selanjutnya, aku memacu mobilku lebih kencang, meninggalkan Ibu Fatimah yang terkapar bersimbah darah.  Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan?  Dalam hitungan detik aku telah menjadi pembunuh. Aku pembunuh!!! Dan aku meninggalkan beliau begitu saja.  Ya Tuhan, apa yang sekarang harus kuperbuat?  Saat ini aku tidak peduli apakah ayah akan marah dan memperhatikanku atau tidak.  Aku tidak peduli.  Yang terpenting saat ini adalah bagaimana keadaan Ibu Fatimah. Aku mengguyur seluruh tubuhku yang penuh dosa dengan air, berharap bahwa semua dosa itu akan lenyap terbawa air.  Namun, tubuhku hanya basah kuyup dan aku terus diliputi rasa bersalah yang amat sangat.  Hingga akhirnya kuputuskan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kejamku. Dengan ikhlas aku meninggalkan rumah mewahku yang telah memberikan kenangan indah sekaligus kenangan buruk selama ini.  Aku pun menyerahkan diriku kepada pihak yang berwajib.  Aku ikhlas.

“Naya, maafkan ayah. Maafkan ayah atas semua kesalahan ayah selama ini.  Seandainya saja ayah lebih memperhatikanmu, tentunya semua hal ini tak akan pernah terjadi.”ujar ayah dengan butiran-butiran air mata mengalir di pipinya ketika membesukku di bui.

“Sudahlah ayah, tidak ada yang harus disesali.  Semuanya sudah tejadi.  Lagipula, Naya sudah memaafkan ayah.  Naya juga bisa memahami perasaan ayah yang kalut karena ditinggal bunda,”jawabku bijaksana.

Ayah mendekapku sambil terisak.  Ada penyesalan tergurat jelas di wajahnya.  Namun, aku sangat bahagia sekaligus sedih.  Aku bahagia karena sosok ayahku yang selama 6 tahun ini hilang telah kembali, meski terlambat.  Dan aku sangat sedih karena Ibu Fatimah akhirnya meninggal pagi ini, setelah semalaman tidak sadarkan diri.  Aku merasa semakin bersalah, terutama saat menghadiri pemakamannya.  Semua sorot mata yang hadir di pemakaman itu menatapku dengan tajam dan seolah-olah berkata ‘PEMBUNUH!’.

Namun, semua kejadian tersebut telah mendewasakanku.  Di dalam bui inilah aku mulai mengenal Tuhanku.  Aku bertaubat. Aku menyadari bahwa dunia ini ternyata indah dan terlalu picik bila harus dinodai lagi oleh ulah-ulah bodohku.  Kini aku memandang segalanya dari kacamata berbeda.  Aku menjadi lebih dewasa, bijaksana, dan terbuka.  Di bui ini jugalah aku mulai belajar bersosialisasi dengan tahanan lainnya.  Dan aku akan terus bersabar menanti hari kebebasanku yang akan datang 5 tahun mendatang.  Selamat datang dunia baruku!

****

MH-Bandarlampung 2006

NB: tulisan pas kelas XI SMA, Juara Harapan II Lomba Penulisan Cerpen Remaja Dinas P&P Kota Bandarlampung

3 Responses so far »

  1. 1

    Darwinho said,

    Siiip….

  2. 2

    miraayuningtyas said,

    makasih,,maaf ya kalo masih kurang bagus
    baru belajar,,hhe

  3. 3

    ervin said,

    Tahun depan dia udah bebas…
    Ntr, udh bebas apa udh lulus?


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: