H. Fadhil Saleh


Teruntuk kakekku tercinta, H. Fadhil Saleh, yang kini tengah berjuang menghadapi penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

mbah

H. Fadhil Saleh adalah seorang suami yang luar biasa memegang teguh komitmennya kepada istrinya, Hi. Rochah.  Seorang ayah yang telah membesarkan enam putrinya dengan luapan cinta dan kasih sayang.  Seorang kakek yang telaten memomong cucu-cucunya dengan senyum mengembang di sudut-sudut bibirnya. Tidak hanya itu, H. Fadhil Saleh adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang telah mengabdikan dirinya untuk mendidik murid-muridnya menjemput kesuksesan.

H. Fadhil Saleh, sosok pria tua dengan guratan-guratan di wajahnya yang menunjukkan betapa pria tersebut telah merasakan asam-garam dunia ini. Bagiku H. fadhil Saleh, bukanlah sesosok pria biasa.  Di mataku beliau adalah seorang kakek yang meskipun usianya telah senja, tubuhnya mulai renta, tetapi berjiwa muda dengan semangat membara.  Meskipun aku jarang bertemu dengan beliau karena faktor jarak yang jauh, tapi bagiku Mbah selalu dekat di hatiku.

Mbah mempunyai hobi yang unik dan tak lazim.  Hobinya adalah mengunjungi pasar loak dan membeli barang-barang yang dianggapnya menarik, seperti mikroskop, televisi, dan benda-benda lainnya.  Selain itu, mbah juga adalah seorang pembuat pisau yang handal.  Mbah juga memelihara beberapa hewan peliharaan, seperti burung dan ayam.

Masih hangat dalam ingatanku, kenangan-kenangan manis yang pernah kualami bersama beliau.  Ketika duduk di bangku SD, mbah mengajakku melihat banyak benda dengan menggunakan mikroskop yang dibelinya dari pasar loak. Mbah pun pernah mengajariku latihan menembak menggunakan senapan angin dengan sasaran pohon pisang di kebun belakang.  Selain itu, mbah juga sering menceritakan kisah hidupnya sewaktu kecil di zaman pendudukan Jepang.

Kenangan yang masih mengganjal di hatiku adalah ketika mbah menceritakan bahwa sebenarnya beliau sempat mengenyam pendidikan kedokteran di UGM, tapi harus berhenti di tengah jalan karena berbagai kendala.  Hingga akhirnya mbah memendam impiannya menjadi dokter dan beralih menjadi seorang guru, suatu pekerjaan yang tak kalah mulia yang tak pernah disesalinya.  Sewaktu kelas XI SMA, banyak keluargaku, termasuk mbah, yang menyarankanku untuk melanjutkan ke kedokteran UNDIP dengan alasan merupakan salah satu kampus yang bagus dan jaraknya lumayan dekat dari Pekalongan, hanya dua jam saja.  Namun, sepertinya dokter memang bukanlah jalan hidupku karena kini aku berlabuh di bidang teknik.  Sayangnya, hingga kini belum ada cucu mbah yang dapat melanjutkan impiannya. Mas Irul, kakak sepupuku kini tengah menempuh pendidikannya di jurusan Akuntansi di Malang.  Semoga saja, kelak di antara adikku atau adik-adik sepupuku ada yang menjadi penerus impian kakek untuk menjadi seorang dokter. Amiin allahumma ya Allah.

Semoga saja.

Salam rinduku untuk kakekku tercinta, H. Fadhil Saleh, teriring do’a yang kulantunkan pada Sang Khalik untuk kesembuhanmu.

Anna uhibbuki fillah…Teruslah berjuang kakekku, semoga Allah memberikan yang terbaik.

2 Responses so far »

  1. 2

    miraayuningtyas said,

    alhamdulillah kakekku uda pulang dr rumah sakit cha


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: