Sepenggal cerita mengenai Wisudaan ITB


Ini keempat kalinya aku menyaksikan salah satu momen spesial di ITB, yaitu wisudaan.  Kali ini dengan posisi yang berbeda, tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pelaku karena kali ini aku telah menjadi bagian dari salah satu himpunan di ITB, MTI.  Ternyata menyiapkan acara wisudaan tidak sesederhana yang kupikir.  Cukup menguras waktu, energi, dan biaya.

Setahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku menyaksikan wisudaan di ITB, sangat meriah.  Terlebih anak-anak FSRD yang tampak sangat niat, all out banget.  Wisudaan semakin ricuh ketika perkelahian mulai terjadi.  Ternyata hal seperti ini memang sudah menjadi semacam tradisi.  Ibaratnya sayur yang akan terasa hambar bila tanpa garam, begitu pula halnya dengan wisudaan, akan terasa hambar tanpa diwarnai keributan semacam perkelahian.  Wisudaan di ITB memang terlihat sangat seru, diwarnai dengan aksi arak-arakan himpunan-himpunan mahasiswa.  Hmmm… mungkin karena sejak dulu masuk ITB terbilang  ‘susah’, apalagi untuk lulus, makanya wisudaan menjadi suatu euforia kemenangan yang sangat sayang untuk dilewatkan tanpa kesan berarti.  Jadilah muncul aksi-aksi semacam arak-arakan.  Yah, ini buah pemikiran kesotoyan mahasiswa tingkat II seperti saya,hehe…

Awalnya saya pikir suasana wisudaan di kampus lain pun sama, tapi ternyata nggak  juga.  Waktu lagi liburan kemarin, aku sempet nggak sengaja ngeliat wisudaan di UNILA (Universitas Negeri Lampung).  Ternyata nggak seheboh yang terjadi di ITB, di luar GSG UNILA tidak terlihat lautan mahasiswa dari jurusan masing-masing menanti keluarnya senior-seniornya yang telah lulus. Tak ada semacam arak-arakan.  Hmmm…untuk pertama kalinya saya jadi merasa kangen kampus ITB di saat-saat liburan. Hehe…saya kangen liat wisudaan ITB yang seru. Lucunya, salah seoran temen panitia lapangan PROKM pernah cerita kalo waktu wisudaan, ada temennya dari UI yang kebetulan lagi maen ke ITB.  Terus temennya terkagum-kagum gitu, seru ya wisudaan di ITB, sampe ada adegan berantem-beranteman segala.  Hehehe….ternyata si anak nyangka itu skenario, padahal itu asli berantem,lho. Hehe…

Tapi, kehebohan wisuda perlahan sudah mulai pudar, seiring dengan keluarnya larangan arak-arakan dari pihak rektorat dengan berbagai alasan.   Hanya beberapa himpunan-himpunan tertentu yang tetap ‘berani’ melakukan arak-arakan, biasanya sih himpunan-himpunan timur jauh,hehe…peace…

Pihak rektorat juga mungkin bosan dengan arak-arakan yang selalu diakhiri dengan perkelahian.  Hmmm…yah, terkadang timbulnya perkelahian seperti ini memang bisa jadi disengaja, buat rame-ramean aja.  Tapi, kalo dipikir-pikir kurang kerjaan juga ya, nggak sesuai dengan kecerdasan intelektual mahasiswa ITB yang dibilang berotak encer.  Hehehe…

Wisuda kali ini, untuk pertama kalinya saya dan rekan-rekan TI 2008 menunjukkan salam tertinggi MTI kepada massa kampus di Sabuga.  Dan rasanya luar biasa.  Always unity forever we are….viva la MTI et la libertat! Hey!  Semoga saya dan rekan-rekan 2008 dapat lulus tepat waktu! Amiin…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: