[TI 2008] Api Kita Sudah Menyala


Awalnya sempet kepikiran untuk nggak ikut kumpul angkatan, soalnya beberapa kali kumpul angkatan terakhir sepi terus.  Jadinya mengecewakan, dan sayanya malah jadi ikut-ikutan males.  Apalagi abis ujian Mavek, terus ada jeda 2 jam yang nanggung, mau pulang nggak keburu, kalo nggak pulang nge-GEJE di kampus. Hehe, tapi untungnya bisa ke sekre Ubala si.  Dan di sekre terhibur dengan kekocakkan cowok2 Ubala yang heboh gara-gara nonton Go Kong alias Kera Sakti. Dan akhirnya kita malah ngalor-ngidul ngomongin permainan tradisional anak-anak, mulai dari Gobak Sodor, Dempo, Angkaliung, dll.

Back to topic, hehe, awalnya sempet nggak ngeh dengan jarkom angkatan tentang “Api Kita Sudah Menyala”.  Sekarang baru sadar, ternyata keren banget maknanya. Dan akhirnya karena bujukan Atya dan Hanna, saya mutusin buat dateng.  Alhamdulillah banget saya ikut, kalo nggak ikut pasti nyesel berat. Hehehe…

Acara kumpul angkatan edisi special ini sendiri merupakan idenya Nicko.  Tujuannya untuk menstabilkan angkatan.  Dan, waw, kalo boleh jujur sebenernya angkatan kita udah cukup stabil, walaupun nggak bisa dipungkiri kalo yang namanya GAP atau semcam cluster2 di angkatan tetep ada.  Tapi, dengan diadakannya kumpul-kumpul gini menurut saya lumayan efektif buat mengikis batas-batas dari tiap cluster itu sendiri.

“Api kita sudah menyala” diselenggarain di rumahnya Diandra di Setia Budi deretannya Suis Butcher.  Acara diawali dengan sholat Maghrib berjama’ah yang diimami oleh Bambang, kemudian dilanjutkan makan nasi tumpeng bareng secara barbar.  Acara bakar-bakarannya sendiri diadain di halaman belakang rumah Diandra.  Dan yang mengharukan ternyata selain bendera-bendera MTI dibawa, pohon komitmen angkatan 2008 juga dibawa.  Ditemani hangatnya api unggun, kami duduk bersama di atas rerumputan.  Pembicaraan mengenai berbagai masalah di angkatan pun diangkat secara terbuka. Secara spontanitas, Reza, Ketua Angkatan, pun didaulat menjadi moderator.

Berbagai pembicaraan mengenai GAP, cluster, dan stabilitas pun terus mengalir.  Walaupun ending-endingnya jadi agak OOT ketika masalah asmara di angkatan antara “A” dan “G” mulai disinggung-singgung. Hmm… kalo bapak-ibu saya pernah bilang istilah cinlok sejurusan gini namanya “In breeding”.

Sekitar jam 8an Bambang pamitan.  Pas pamitan Bambang sempet nyampein beberapa patah kata yang mengena banget.  Intinya, kita jangan Cuma bisa hura-hura, satu hal penting yang harus kita inget adalah kematian.  Buat saya itu mengena banget.  Di tengah hingar-bingar celoteh anak-anak tentang masalah angkatan dll yang berbau duniawi, omongan Bambang seolah-olah menjadi oase. ^^

Nggak lama dari itu, acara ditutup dengan menyanyikan lagu angkatan dan avanti MTI bersama dengan posisi mengelilingi api unggun.  Meskipun capek, tapi bukan berarti mengurangi semangat untuk ber-avanti.

Avanti MTI

Alaris corscha

Pre siempre viva

Pre siempre viva

Avanti MTI

Alaris corscha

Pre siempre viva

Thriumph vera hu ha ha…

Always unity forever we are

Always unity whenever we are

Always unity wherever we are

Viva la MTI et la libertat, hey!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: