Dikasih Ham, Neng?


Ting…ting…ting…

Sekitar pukul 6 pagi mamang bubur ayam langganan di belakang kosan sudah mulai memanggil-manggil para pelanggannya.  Bunyi ting ting ting yang begitu nyaring terdengar sangat menggoda selera.  Si Mamang sudah siap menyediakan bubur ayam sebagai menu sarapan warga sekitar.

Perut yang keroncongan membawaku melangkah ke kampung belakang kosan.  Melewati Gang Senggol (istilah untuk gang yang hanya muat dilewati orang) aku menuju ke lokasi ting…ting…ting… bersumber.  Sejak Semester 4 kemarin, aku memang mulai sering menjadikan bubur ayam belakang kosan sebagai menu sarapan di pagi hari.  Selain jaraknya yang dekat dari kosan, rasanya yang lumayan, porsinya pas, harganya pun sangat murmer (murah-meriah), hanya 2000 perak saja.

Seperti biasa, di sebelah gerobak Mamang Bubur Ayam, sudah ada pula Mamang penjual g0rengan yang sedang sibuk menggoreng sembari berbincang-bincang dengan Mamang Bubur Ayam.

“Mang, buburnya 1 di bungkus,” pesanku.

Dengan cekatan, si Mamang segera membungkuskan seporsi bubur ayam pesananku. Tiba-tiba si Mamang bertanya, “Dikasih Ham, Neng?”

Jeng…Jeng…. Sejenak aku terdiam penuh keheranan, aku sudah berkali-kali memakan bubur ayam si Mamang, tapi kenapa si Mamang baru nanyain pake ham atau nggak sekarang?  Astaghfirullah, jadi selama ini apa yang kumakan ….

Seolah menyadari ekspresi kebingunganku, si Mamang pun berkata, ” Maksudnya pake sambel nggak, Neng? Kalo di kampung Mamang, di Tasik, ‘ham’ teh artinya sambel,”

Owalah…. lalalala….. saya pikir…

Akhirnya dengan senyum-senyum penuh kelegaan aku pun langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan si Mamang.

“Kalo saya tahunya Ham itu sama dengan daging babi, Mang, makanya saya kaget, hehehe…,” jawabku. Karena dibingungkan dengan istilah Ham, aku pun lupa mengatakan kepada si Mamang untuk menuangkan sedikit sambal saja. Dan sekarang akibatnya, perut ini melilit gara-gara semangkuk bubur ayam extra pedas.  –_–

Pesan Moral :

Bener kata temen saya si Luki, kalo’ ngomong sama orang memang perlu disesuain bahasanya.  Lain orang, lain bahasanya.  Saya sendiri kadang suka khilaf, ngomong sama anak Ubala suka keluar punten, nuhun, dkk nya (soalnya memang cuma tahu itu doang juga, hehe).  Tapi, kalo menurut saya ada manfaatnya juga si, misalnya dalam kondisi saya, saya malahan jadi dapet kosa kata baru. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: