Puting Beliung di Langit Bandung


Kamis sore, setelah selesai dengan segala urusan tugas, saya dan Aisha bergegas menuju kosan untuk menaruh laptop.  Setelah sholat Ashar dan mengeprint OPC di DU, kami bergegas menuju Andi’s Travel di dekat Istana Plaza untuk memesan tiket ke Pekalongan.

Seusai memesan tiket, kami segera menuju pusat perbelanjaan Balubur di seberang Gedung Annex.  Itung-itung Ngabuburit pikirku.  Sudah lama nggak ngerasain pulang sore (biasanya malem baru ninggalin kampus).  Sekitar jam 17.00 kami tiba di pusat perbelanjaan Balubur.  Setelah mengganti baterai kalkulator dan membeli sebuah penggaris untuk Aisha, kami berkeliling-keliling sejenak.  Kebanyakan toko-toko memang sudah tutup.  Tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencang.  Saking kencangnya, beberapa manekin di pertokoan jatuh bergulingan ke lantai.  Saat itu aku masih belum merasakan sesuatu hal yang aneh.  Dalam hatiku aku bergumam ‘Angin daerah Kebon Bibit sini gede juga ya’.

Sekitar pukul 17.30 kami menuju pelataran parkir.  Saat itu aku mulai merasakan keganjilan.  Angin yang berhembus ke arahku terasa begitu kencang.  Saat itu langit sudah sangat pekat.  Butiran hujan mulai menetes. Butiran air yang menetes relatif besar, tapi anehnya hujan turun dengan tidak merata.  Aku semakin merasa heran ketika di depan pintu parkir keluar, terlihat sekerumunan orang-orang menengadah ke langit.  Beberapa bahkan terlihat mengarahkan kamera ponselnya ke langit.  Sontak aku refleks memandang ke arah langit.  Aku melihat semacam lempengan-lempengan berputar-putar di langit, di atas pusat perbelanjaan Balubur (arah barat).  Ada yang aneh.  Tapi, aku memilih untuk diam karena kami harus segera bergegas bila tidak ingin basah kuyup karena guyuran hujan.

Saat akan membayar parkir, Aisha bertanya kepada penjaga pintu parkir, “Ada apa ya, Pak?”

“Itu ada puting beliung” jawab si bapak.

“Tahu darimana, Pak?” Aisha kembali bertanya.

“Itu liat aja ke atas,” si bapak kembali menjawab sambil menunjuk ke atas.

Pemandangan yang kulihat masih sama seperti sebelum aku menaiki motor, tetapi kali ini aku memandang langit dengan hati berdebar.  Segenap kengerian menjalar. Langit yang kulihat semakin pekat dan aku merasa langit pekat itu kian mendekat.  Sebenarnya,  kami  sangat ingin tetap berdiri di sana dan memandangi pusaran angin itu, meski dilingkupi perasaan was-was.  Namun, hari sudah semakin senja dan waktu berbuka hampir tiba.  Di pinggiran Jalan Tamansari-Sulanjana kulihat kerumunan orang menatap ke arah barat memandangi pusaran angin.  Akhirnya motor yang dikendalikan Aisha terus melaju ke arah Dago, sudah waktunya mencari tempat untuk berbuka.

Ternyata pada hari Kamis, 26 Agustus 2010 kemarin memang terjadi puting beliung di Bandung.  Beberapa warta dunia maya telah mengepost tulisan mengenai kejadian ini.  Puting beliung ini merupakan gabungan dari 2 angin puyuh yang menjadi satu.  Angin yang lebih besar berasal dari arah jembatan Pasopati.  Angin puting beliung ini berlangsung selama 15-20 menit.  Genteng-genteng bertebaran di udara, bahkan salah satu kios gorengan rubuh dan jatuh ke sungai.  Untungnya kejadian ini tidak menelan korban jiwa.  Beberapa rumah permanen maupun semi permanen dikabarkan mengalami kerusakan. Saat adzan Maghrib angin ini sudah tidak terlihat lagi.

Foto2 dok. buridx anak IT Telkom (Kaskuser)

2 Responses so far »

  1. 1

    Hantu said,

    Hahaha bener tuh mir😀

  2. 2

    Mira Ayuningtyas said,

    hantu teh saha?

    bener gmn maksudnya?


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: